Padang, 29 Juli 2026 – Ada rasa haru yang sulit disembunyikan di lantai 4 Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang, Rabu (29/7). Di tengah aroma akademik yang khas, seorang pria melangkah keluar dari ruang sidang dengan guratan lega di wajah. Dialah Akmal, Ketua Komite MIN 7 Padang, yang siang itu resmi menyandang gelar doktor setelah menuntaskan ujian disertasi. Bukan kebetulan, Kepala MIN 7 Padang, Rusdayetti, dan Waka Kesiswaan, Eka, tampak setia duduk di bangku paling depan. Mereka hadir bukan sekadar sebagai tamu, melainkan sebagai saksi bahwa dedikasi tak pernah mengenal batas peran—seorang ketua komite pun bisa terus bertumbuh menjadi puncak intelektual.
Perjalanan Akmal menuju S3 bukanlah lintasan lurus bebas hambatan. Di sela-sela mengawal kebijakan madrasah dan memastikan partisipasi wali murid tetap solid, ia menyelipkan riset dan diskusi-diskusi larut malam bak seorang petualang yang mencintai dua dunianya sekaligus. “Saya ingin membuktikan bahwa Komite bukan hanya urusan administrasi. Ketika kami ikut belajar, maka energi literasi itu akan menetes ke siswa dan guru,” ujar Akmal dengan suara bergetar, masih dalam balutan selempang kelulusan. Di sinilah irisannya: madrasah dan universitas tak lagi jauh, keduanya bertaut erat dalam diri seorang Akmal.
Rusdayetti, yang sore itu mengenakan batik khas Sulawesi, tak henti-hentinya mengangguk penuh kebanggaan. “Ini jawaban dari langit. Selama ini kami di madrasah sibuk menularkan virus belajar, dan hari ini Pak Akmal justru menjadi inang terbaik virus itu. Sebuah doktor lahir dari rahim Komite, bayangkan betapa besarnya gengsi moral ini bagi anak-anak didik kami,” tuturnya, setengah berkelakar serius. Di sampingnya, Eka menimpali dengan mata yang nyaris berkaca, “Sering kita cerita ke siswa soal keteladanan, tapi hari ini teladan itu punya nama, wajah, dan gelar. Pak Akmal adalah bumerang semangat yang kembali ke madrasah dengan ledakan inspirasi.” Tawa kecil menyelimuti sudut lobi FIP yang mulai sore itu temaram, tapi hangat.
Kini, MIN 7 Padang bukan cuma punya guru berdedikasi; ia juga punya Ketua Komite bergelar doktor yang siap merumuskan arah pendidikan dari hulu ke hilir. Acara sederhana di lantai 4 itu mungkin akan selesai dalam hitungan jam, tapi gaungnya akan terasa panjang. Sebab, ketika seorang pemangku kepentingan memilih untuk terus belajar, sesungguhnya ia sedang membangun jembatan kokoh antara cita-cita dan kenyataan. Dan jembatan itu, hari ini, telah diresmikan oleh senyum Akmal yang tak lagi membawa beban.