Padang, 6 Agustus 2026 – Kamis (6/8) pagi, ruang guru MIN 7 Padang berubah menjadi ruang refleksi. Pak Zalidin hadir bukan sekadar sebagai pemateri, tapi sebagai sahabat yang ingin berbagi resep. Di depan seluruh guru dan tendik, ia membuka sesi dengan senyum hangat dan satu keyakinan: mengajarkan Alquran itu harus dengan cinta, bukan paksaan.
“Anak-anak bukan wadah kosong yang siap diisi,” ujarnya lembut. “Mereka adalah jiwa yang perlu disentuh dulu hatinya, baru diajak mencintai kalam-Nya.” Para guru mengangguk pelan. Beberapa tampak mencatat, bukan sekadar poin-poin teknis, tapi juga cara pandang baru yang meneduhkan. Suasana sesi mengalir seperti obrolan pagi di teras rumah.
Zalidin lalu memberi trik-trik sederhana: gunakan nada bertutur yang lembut, jadikan ayat sebagai cerita, dan yang terpenting, jangan malu menunjukkan rasa takjub saat mengajar. “Kalau kita sendiri terpesona, anak-anak akan menangkap pesona itu tanpa diminta,” tambahnya.
Siang itu, para guru pulang membawa lebih dari sekadar metode. Mereka membawa semangat bahwa menjadi pengajar Alquran adalah menjadi penjaga cahaya. Dan MIN 7 Padang, sekali lagi, memilih mendidik dengan hati.